Tuesday, August 12, 2008

Dukun beranak, bagaimana kabarnu?

Tidak bisa disangkal lagi bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia mengenal dukun berana atau dukun bayi yang kadang juga disebut dukun Praji. Dulu, memang banyak yang menggunakan jasanya. Sekarang? Jangan ditanya lagi. Pasti dong masih tetap ada. Terutama di desa-desa. Di Kabupaten Grobogan diberlakukan bahwa setiap persalinan harus dilakukan di rumah bidan (akan diberlakukan sanksi untuk bidan bila melakukan persalinan di rumah warga). Ini untuk mencegah terjadinya infeksi dan hal lain yang bisa terjadi karena lingkungan yang kurang memadai dan sebagainya. Padahal masyarakat masih banyak yang ingin melakukan persalinan di rumah. Maka, apabila bu bidan atau dokter tidak mau atau tidak bisa datang ke rumah pasien untuk melahirkan, masyarakat akhirnya mendatangi dukun beranak. Apa kata si Dukun Beranak ketika bidan memberi sosialisasi bahwa Dukun beranak tidak lagi boleh menolong persalinan? " Saya dulu dilatih dan diberi alat dan surat dari Puskesmas (maksudnya Dinas Kesehatan). Kalau saya tidak diberhentikan oleh yang bikin hidup saya tidak mau berhenti". Waduh! Ada lagi kisah, di salah satu Puskesmas Kepala Puskesmas mengumpulkan dukun beranak di wilayahnya dan menarik kit (alat-alat). So, what happen next???para dukun lalu bareng-bareng menyerbu toko alat lesehatan dan memborong di sana. Seems so crazy? may be yes! Tapi, sebenarnya, ada kan jalan penyelesaian yang lebih baik daripada akhirnya ibu bersalin yang jadi korban. Saya yakin ada, dong. Misal: dukun beranak diajak bermitra. Wong dulu ya pernah dilatih, dimintai bantuan ngasih vit A dll. Bermitra tari dukun melakukan yang sesuai dengan kompetensinya aja. Misal bagian mandiin bayi, pijitin ibu dll. Trus, kit dan sertifikat (surat tanda lulus pelatihan) mesti gimana, nich? menurut saya, mestinya yang kasih komando Dinas Kesehatan kan. Wow, ini bisa berkait dengan AKI kan?

Labels: , ,

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home